Tuesday, 18 October 2016

Muridku yang Spesial

Dia adalah muridku yang spesial, sebut namanya Cita. Perawakannya imut, mungil, dan lucu. Cita anak yang sangat pemalu. Suara Cita sangat pelan, sehingga saya harus menempelkan telinga saya ke dekat mulutnya agar suara Cita terdengar.

Cita sangat lamban dalam menerima pelajaran. Hampir di setiap mata pelajaran dia tertinggal dari murid yang lain. Sebagai gurunya, saya seringkali merasa sedih jika ada guru lain yang bersuara agak keras karena Cita sering salah atau tidak memahami  perintah si guru. 

Kala itu saya baru saja mengajar di sebuah sekolah dasar di kota Bandung. Saya mengajar pelajaran matematika di kelas satu dan dua. Dengan pengalaman mengajar yang masih minim, ditambah saya juga bukan lulusan dari perguruan tinggi keguruan, memiliki murid seperti Cita sungguh merupakan tantangan tersendiri bagi saya.

Membaca, bertanya, dan mengamati adalah modal saya sebagai seorang guru. Salah satu tekad saya adalah membuat anak-anak mencintai belajar, merasa bahagia untuk belajar, terutama dalam mata pelajaran matematika.

Banyak metoda yang saya berikan kepada murid, dan yang paling sering saya lakukan adalah menggunakan metoda bercerita dalam pelajaran matematika, juga dalam penerapan nilai-nilai dasar kehidupan. Metoda bercerita juga seringkali saya gunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan di antara para murid.

Cita adalah salah satu murid yang sangat menyukai metoda bercerita ini. Dia lebih bisa mengekspresikan perasaannya ketika mendengarkan sebuah cerita atau ketika sesekali Cita bermain dengan teman-temannya, sayangnya Cita jarang sekali terlihat sedang bermain. Cita lebih sering bermain dengan dirinya sendiri.

Waktu istirahat yang masih luang, atau ketika anak-anak lain sudah mengerjakan tugasnya adalah saat di mana saya sering meluangkan waktu berdua saja dengan Cita. Cita sering menarik-narik baju saya ketika ia ingin menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti. Saya akan memintanya menunggu, sampai saya memiliki waktu berdua saja dengannya.

Mencoba menerangkan sebuah sub mata pelajaran kepada Cita seringkali menguras tenaga saya. Cita sangat sulit memahaminya. Satu hal yang saya yakini adalah pasti ada cara terbaik untuk membuat Cita mengerti pelajaran yang saya terangkan. Satu metoda gagal, maka saya coba metoda yang lain. Begitu terus saya lakukan kepada semua murid saya, terutama untuk anak-anak yang mempunyai kemampuan hampir sama dengan Cita.

Sungguh, bagi saya Cita adalah anugrah. Berkat Cita saya terpacu untuk membaca banyak buku, Berkat Cita pula saya mencoba menyelami bagaimana kalau saya seperti Cita, hal apa yang membuat saya memahami suatu pelajaran. Kadang ketika saya berdua dengan Cita, saya pandangi sosoknya. Saat itu saya berpikir, apa yang harus saya lakukan agar Cita mengerti, agar Cita tidak jauh tertinggal dari teman-temannya. Saya yakin, Allah tidak pernah menciptakan produk yang gagal. Yang terjadi hanyalah, kita tidak cukup tekun dan sabar dalam menjawab semua tantanganNya.

Salah satu momen terbahagia saya adalah ketika Cita bisa mengerti pelajaran yang saya ajarkan dengan metoda yang paling pas untuknya. Saat itu, rasanya saya menjadi guru paling bahagia di dunia. Bagi seorang guru, salah satu hal yang paling membahagiakan adalah membuat muridnya yang paling sulit menerima pelajaran menjadi mengerti dan memahami pelajaran itu.

Akhir tahun pelajaran menjadi saat yang paling menyedihkan. Orangtua Cita memutuskan untuk memindahkan Cita dari sekolah tempat saya mengajar. Alasannya, beban sekolah ini terlalu berat untuk Cita. Tapi satu hal yang membuat saya sangat terharu adalah ketika ibu Cita membisikkan sebuah pesan dari Cita, "Ibu, Cita bercita-cita ingin menjadi guru matematika seperti ibu. Matematika adalah pelajaran yang paling Cita sukai."

Mungkin orang menyebut saya sebagai guru bagi Cita, tapi yang sebenarnya adalah Citalah yang merupakan guru bagi saya. Anak-anak spesial seperti Cita, membuat kami para guru harus lebih ekstra belajar. Belajar untuk menjadi guru yang lebih baik, 

Wallahua'lam bishshowab. 















3 comments: